Kamis, 16 Juni 2011


unnes warna
Model Pembelajaran Kooperatif
" Make A Match ” Dalam Pembuatan Jurnal Perusahaan Jasa
Jurnal
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah SBM Akuntansi
Dosen Pengampu : Jarot Tri Bowo S
Rombel :
Disusun oleh :
Nama : Puput Nilam Sari
NIM : 7101409039
Prodi : Pendidikan Akuntansi
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011
BAB 1
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
“MAKE A MATCH”
Model pembelajaran kooperatif didasarkan atas falsafah homo homini socius, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial (Lie, 2003:27). Sedangkan menurut Ibrahim (2000:2) model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang membantu siswa mempelajari isi akademik dan hubungan sosial. Ciri khusus pembelajaran kooperatif mencakup lima unsur yang harus diterapkan, yang meliputi; saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota dan evaluasi proses kelompok (Lie, 2003:30).
Model pembelajaran kooperatif merupakan metode yang mensyaratkan siswa untuk belajar secara bersama dalam suatu kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas kelas atau tugas rumah mingguan. Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang sama sekali baru bagi guru. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Metode make a match atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. Metode ini dapat digunakan untuk semua mata pelajaran Setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban), lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang. Suasana pembelajaran dalam model pembelajaran Make a Match akan riuh, tetapi sangat asik dan menyenangkan. Penerapan metode ini dimulai dari teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal. Misalnya guru membagikan soal pada siswa lalu siswa diharuskan mencari kartu yang merupaan jawabab soal yang dipegangnya tadi sebelum batas waktu yang ditentukan berakhir, siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum waktu yang ditentukan habis maka siswa tersebut akan diberi poin plus (+). Metode pembelajaran make a match ini daapat merupakan metode pembelajaran yang dirancang untuk menigkatkan partisipasi dan keaktifan siswa didalam kelas.
Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.
Metode make a match dapat digunakan untuk mengurangi pembelajaran terpusat pada guru sampai saat ini masih menemukan beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut dapat dilihat pada saat berlangsungnya proses pembelajaran di kelas, interaksi aktif antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa jarang terjadi. Siswa kurang terampil menjawab pertanyaan atau bertanya tentang konsep yang diajarkan. Siswa kurang bisa bekerja dalam kelompok diskusi dan pemecahan masalah yang diberikan. Mereka cenderung belajar sendiri-sendiri. Pengetahuan yang didapat bukan dibangun sendiri secara bertahap oleh siswa atas dasar pemahaman sendiri. Karena siswa jarang menemukan jawaban atas permasalahan atau konsep yang dipelajari.
Rendahnya pencapaian nilai akhir siswa ini, menjadi indikasi bahwa pembelajaran yang dilakukan selama ini belum efektif. Nilai akhir dari evaluasi belajar belum mencakup penampilan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran, hingga sulit untuk mengukur keterampilan siswa. Untuk memperbaiki hal tersebut perlu disusun suatu pendekatan dalam pembelajaran yang lebih komprehensip dan dapat mengaitkan materi teori dengan kenyataan yang ada di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu metode make a match dapat menjadi salah satu solusinya.
Sistematik :
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
2. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
3. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya.
4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal / jawaban).
5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
6. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama.
7. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
8. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.
BAB II
Model Make A Match dalam Pembuatan Jurnal.
Dalam akuntasi penmbuatan jurnal adalah bagian yang penting.karena bila salah dalam penjurnalan maka pada tahap selanjutnya yaitu pada proses memasukkan dibuku besar dan tahap tahap setelah itu dapat terganggu. Dan hal yang lebih fatal adalah kesalahan dalam laporan keuangan.
Akuntansi perusahaan jasa biasanya diajarkan di SMA kelas 2 semester 2 yang mungkin merupakan hal baru bagi siswa dalam belajar akuntansi. Pembuatan jurnal pada akuntansi perusahaan jasa adalah pembuatan jurnal yang simple namun ketelitian dituntut disini. Sehingga siswa harus paham dalam pembuatan jurnal tersebut. Oleh karena itu harus digunaka metode pembelajaran yang menyenangkan agar siswa lebih mudah memahami dan menerima pelajaran / materi yang diberikan.
Jurnal pada perusahaan jasa disebut jurnal umum. Setiap ayat jurnal umum terdiri dari 4 bagian yaitu: akun dan jumlah yang harus di debet; akun dan jumlah yang harus di kredit; tanggal; dan keterangan.
Langkah-langkah penerapan model make a match sebagai berikut:
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
Misal guru membuat soal pada sebuah kartu “ dibeli peralatan senilai Rp 200.000 secara tunai ”. Lalu guru menulis jawabannya pada kartu yang lain “ peralatan (debet) sebesar Rp 200.000, hutanh (kredit) sebesar Rp 200.000. Jika dalam satu kelas terdiri dari 40 siswa. Maka guru membuat 20 kartu yang berisi soal transaksi dan 20 kartu berisi jawabannya.
2. Guru menjelaskan aturan mainnya, misal waktu yang diberikan dalam melakukan permainan tersebut, hadiah yang diterima jika siswa dapat menyelesikan permainan tersebut ( misal bagi siswa yang yang dapat menyelesaikan permainan / mampu mencocokkan kartu soal/ jawaban yang dia miliki dengan kartu jawaban/ soal teman sebelum waktunyang ditentukan habis akan mendapat poin plus (+) maupun hukuman yang akan diterima jika siswa gagal menyelesaikan permainan misalnya siswa yang tidak dapat mencocokkan sebelum waktu yang ditentukan habis maka siswa tersebut diberi hukuman menyanyi. Sehingga siswa lebih antusias dan semangat dalam mengikuti permainan dari guru.
3. Kartu kartu tersebut diacak. Kemudian setiap siwa mengambil satu kartu. Jadi ada 20 siswa yang memegang kartu yang berisi soal dan 20 siswa yang memegang kartu yang bersisi jawaban.
4. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya.
5. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal / jawaban).
6. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
7. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama. Misalnya menyanyi atau menari
8. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, hal ini dilakukan sampai siswa memahami betul bagaimana menjurnal transaksi transaksi pada perusahaan jasa.
9. Guru bersama sama siswa membuat kesimpulan, mengevaluasi dan merefleksi terhadap materi pelajaran dengan demikian siswa belajar akuntansi tidak hanya mendengarkan dan guru menerangkan didepan kelas saja namun diperlukan keaktifan siswa dalam pembelajaran akuntansi.
10. Setelah permaianan selesai guru dapat melanjutkan materi selanjutnya.
BAB III
Evaluasi dan Kesimpulan
Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan adalah model pembelajaran yang dikembangkan oleh Lorna Curran. Dalam model pembelajaran make a macth terdapat :
Ø System sosial :
· Siswa berinteraksi dengan sesamanya melalui permainan mencocokkan kartu sehingga terbentuk situasi yang menyenangkan.
· Guru sebagai fasilitator mengontrol isi dan proses pembelajaran dari sudut interaksi antara peserta belajar yang satu sisi dengan yang lainnya.
Ø System pendukung
· Pengajar yang memiliki kepribadian hangat dan terampil dalam mengelola hubungan interpersonal dan diskusi kelompok, mampu menciptakan iklim kelas yang terbuka dan tidak defensive.
· Media berupa kartu soal dan jawaban yang berisis bahan – bahan dan data terpilih serta terorganisasi untuk memberikan contoh – contoh permasalahan dalam suatu materi pembelajaran.
Ø Prinsip reaksi
· Pengajar berperan sebagai fasilitator atau pemberi kemudahan. Dalam keseluruhan proses pembelajaran pengajar bertugas dan bertanggung jawab atas terpeliharanya suasana belajar dengan cara menunjukkan sikap yang mendukung dan tidak bersikap menilai.
· Siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang sudah dimilikinya untuk diterapkan pada permainan yang kompetitif ini.
Model pembelajaran make a mach juga berdampak :
a. Dampak instruksional
· Konsep dan ketrampilan
· Berfikir kritis dan membuat keputusan
· Ketelitian, ketepat, kecermatan, dan kecepatan
b. Dampak pengiring
· Pencapaian dan evaluasi
· Kesadaran tentang efektivitas
· Menghadapi konsekunsi
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif metode make a match memberikan manfaat bagi siswa, di antaranya sebagai berikut:
1. mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan
2. materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa
3. mampu meningkatkan hasil belajar siswa
Akan tetapi seperti biasa tidak ada gading yang tak retak, tidak ada metode yang sempurna. Demikian juga dengan metode make a match. Keunggulan dari metode ini ialah
1. Suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses pembelajaran (Let them move)
2. Kerjasama antar sesama siswa terwujud dengan dinamis.
3. Munculnya dinamika gotong royong yang merata di seluruh siswa.
Sedangkan kelemahan dari metode ini ialah jika kelas termasuk kelas gemuk (lebih dari 30 0rang/kelas) berhati-hatilah. Karena jika kurang bijaksana maka yang muncul adalah suasana seperti pasar dengan keramaian yang tidak terkendali. Tentu saja kondisi ini akan mengganggu ketenangan belajar kelas di kiri kanannya. Apalagi jika gedung kelas tidak kedap suara. Namun hal ini dapat diantisipasi dengan menyepakati beberapa komitmen ketertiban dengan siswa sebelum ‘pertunjukan’ dimulai. Pada dasarnya menendalikan kelas itu tergantung bagaimana kita memotivasinya pada langkah pembukaan.
Sedangkan sisi kelemahan yang lain ialah mau tidak mau kita harus meluangkan waktu untuk mempersiapkan kartu-kartu tersebut sebelum masuk ke kelas.
Pada penerapan metode make a match, diperoleh beberapa temuan bahwa metode make a match dapat memupuk kerja sama siswa dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang yang ada di tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya masing-masing. Hal ini merupakan suatu ciri dari pembelajaran kooperatif seperti yang dikemukan oleh Lie (2002:30) bahwa, “Pembelajaran kooperatif ialah pembelajaran yang menitikberatkan pada gotong royong dan kerja sama kelompok.”
Kegiatan yang dilakukan guru ini merupakan upaya guru untuk menarik perhatian sehingga pada akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan motivasi siswa dalam diskusi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamalik (1994:116), “Motivasi yang kuat erat hubungannya dengan peningkatan keaktifan siswa yang dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran tertentu, dan motivasi belajar dapat ditujukan ke arah kegiatan-kegiatan kreatif. Apabila motivasi yang dimiliki oleh siswa diberi berbagai tantangan, akan tumbuh kegiatan kreatif.” Selanjutnya, penerapan metode make a match dapat membangkitkan keingintahuan dan kerja sama di antara siswa serta mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bahwa pelaksanaan proses pembelajaran mengikuti standar kompetensi, yaitu:
a. berpusat pada siswa
b. mengembangkan keingintahunan dan imajinasi
c. memiliki semangat mandiri, bekerja sama, dan kompetensi
d. menciptakan kondisi yang menyenangkan
e. mengembangkan beragam kemampuan dan pengalaman belajar
f. karakteristik mata pelajaran.
Penerapan model pembelajaran make a match ini sebaiknya tidak dilaksanakan berulang ulangsetiap kali pertemuan dan disetiap materi, karena model seperti ini sebaiknya digunakan sebagai selingan. Karena metode seperti ini akan lebih baik dan lebih menyenangkan apabila digunakan sesekali sebagai selingan dan variasi kegiatan belajar mengajar agar siswa tidak cepat merasa bosan.

1 komentar:

  1. Numpang promo ya gan……: D
    LOWONGAN KERJA SAMPINGAN GAJI 3 JUTA/MINGGU
    Kerja management dari program kerja online ( Online Based Data Assigment Program / O.D.A.P ) Membutuhkan 200 karyawan diseluruh Indonesia yang mau kerja sampingan online dengan potensi penghasilan 3 JUTA/Minggu + GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan. Tugasnya hanya ENTRY data, per entry @10rb. Misal hari ini anda kirimkan 200 data dari O.D.A.P yang harus di entry berarti kita dapat hari ini @ 10rb x 200 = 2 JUTA. Lebih jelasnya kirimkan NAMA Lengkap & EMAIL anda
    Buka http://www.penasaran.net/?ref=92vcnd

    BalasHapus